TRAGEDI JEBOLNYA TANGGUL SITU GINTUNG

(Sebuah Kelalaian atau Kemahakuasaan Allah)

Sebuah peristiwa yang memilukan terjadi di daerah Cirendeu, Ciputat, perbatasan propinsi antara Banten dengan Jakarta, yakni jebolnya bendungan Situ Gintung pada pukul 04.30 pagi, di saat sebagian warga masih terlelap tidur setelah bekerja seharian penuh. Air menggerus – bak tsunami Aceh – ke pemukiman warga yang padat dan perumahan elit setempat. Banyak korban berjatuhan, terdiri dari 58 orang tewas bahkan disinyalir akan lebih banyak lagi, 173 orang luka-luka, dan banyak mobil-mobil yang dilemparkan oleh air ganas tersebut. Jadi tidak hanya kehilangan harta benda semata, tapi juga nyawa melayang dan kerugian diperkirakan mencapai milyaran rupiah. Berdasarkan pengalaman empiris penulis, ketika masih di kuliah di IAIN Ciputat (yang sekarang berubah menjadi UIN) selama 4,5 tahun, situ gintung mempunyai kenangan tersendiri dan tidak pernah terlupakan. Selain suasananya indah juga bisa menjadi insprirasi di saat penulis sedang be-te, menghadapi tagihan ibu kost yang jutek, semesteran, wesel yang belum kunjung datang dari orang tua di kampung, dan diskusi out line skripsi dengan dosen pembimbing yang kiler. Bagi mahasiswa/mahasiswi IAIN khususnya, dan mahasiswa lainnya, danau situ gintung merupakan sebuah tempat khusus di hati mereka. Bagi masyarakat sekitar, eksistensi dan manfaat yang diambil dari danau tersebut menjadi berkah dalam bentuk yang lain. Sebuah pertanyaan muncul di benak penulis, apakah peristiwa bedahnya tanggul danau tersebut semata-mata kelalaian manusia? Ataukah semacam bencana alam yang mengindikasikan bahwa Sang Khalik  memarahi / menjewer manusia agar manusia sadar dan kembali ke pangkuan-Nya?, Kalau diyakini peristiwa tragis tersebut hanya sekedar kelalaian manusia belaka, maka yang perlu dibenahi adalah sejauh mana kontruksi bendungan tersebut?, berapa kubik debit air yang dapat ditampungnya?, dan studi kelayakan yang benar-benar cermat dan teliti, sehingga masyarakat menjadi aman dan tidak dihantui rasa ketakutan. Oleh karena tanggul terletak di dua Pemda yakni antara Banten dengan Jakarta, maka pertanyaan yang mengmuka adalah Pemda manakah yang bertanggung jawab untuk merekontruksi kembali bendungan tersebut? Agaknya pertanyaan terakhir ini masih menyisakan tarik menarik antara Banten dengan Jakarta. Apapun persoalannya masyarakat sangat mengharapkan agar tanggul tersebut segera dibangun kembali. Dari sudut agama bahwa, musibah jebolnya tanggul tersebut merupakan suatu teguran dari Allah SWT, bagi masyarakat sekitar dan bagi umat manusia lainnya, bahwa Sang Khalik sedang menunjukan murka-Nya. Dalam surat ar-Rum Allah SWT sudah menandasakan yang artinya: “Kerusakan yang terjadi di daratan dan di lautan adalah semata-mata akibat eksploitasi secara destruktif oleh manusia, kemudian kalau ada bencana alam biar manusia sendiri yang merasakannya (terjemahan bebas versi penulis)”.               

Iklan

KOALISI SEGI TIGA EMAS DAN JEMBATAN EMAS

(Manuver Elit Parpol Menjelang Pemilu 2009)

Mengamati konfigurasi politik di era reformasi merupakan suatu yang amat menarik. Partai besar berinisiatif dan bahkan sangat proaktif menggandeng partai lama dan partai baru yang dalam pandangannya dapat menguntungkan dan memperkuat pososinya di parlemen. Ada istilah kontrak politik, perkawinan politik, dan lain-lain. Apakah itu semacam koalisi?, atau hanya sekedar berbagi kekuasaan?, ataukah karena sakit hati terhadap pemerintah yang berkuasa? Oleh karena pada pertarungan pilpres yang telah lalu tidak mendapatkan kursi kekuasaan? Ataukah refresentasi parpol pemenang pemilu pada pos-pos penting kurang/tidak terwakili? tidak jelas juga arahnya. Lucunya adalah di era reformasi yang menjunjung tinggi transparansi ke publik,  mengapa justru pertemuan elit-elit parpol dilakukan secara tertutup?. Rakyat jadi bertanya-tanya: “Apakah pertemuan elit-elit parpol yang dilakukan secara tertutup tersebut menuju sebuah bentuk parlemen baru yang dinamakan “Koalisi”?, Sejauh pengetahuan penulis yang masih awam bahwa, sejarah parlemen di Indonesia tidak ada yang namanya “koalisi parlemen”, memang pada pemilu tahun-tahun yang lalu, terdengar ada suara “koalisi”, “oposisi”, akan realitasnya ternyata koalisi untuk membagi-bagi kekuasan, atau dalam strategi untuk menggulingkan pemerintah sah yang tidak disukai. Apa untungnya bagi rakyat, kalau hanya pertemuan-pertemuan semacam itu hanya membagi-bagikan nasi bungkus seperti acara arisan pada umumnya. Dalam pemikiran sederhana masyarakat awam siapapun presidennya kelak, yang penting dua liter berjalan lancar, dapur masih bisa tetap ngebul, bisa merokok meskipun cara memperolehnya masih bergaya klasik (mengegrek/mengecer) dari warung-warung terdekat dan itupun statusnya gali lubang tutup lubang, artinya, tarikan nafas kehidupan di nadi mereka masih berjalan. Rakyat tidak butuh janji-janji surgawi, tapi realisasi dari statemen-statemen para elit parpol setelah pemilu nanti, apakah benar anggota dewan yang terhormat adalah wakil-wakil mereka yang membela/mengusung suara/keluhan/jeritan mereka?  Jangan menduga bahwa rakyat tidak cerdas membaca manuver para elit parpol?, sebab obrolan mereka sehari-hari di kedai kopi, di tempat-tempat mangkal ojek dan tempat-tempat lain yang spontanitas dan sporadis tanpa dikonsolidasi terlebih dahulu, di seputar persoalan caleg, parpol dan bahkan siapa presiden yang pantas/dibanggakan. Kendatipun referensi dan daya nalar mereka dalam istilah pers dari sumber yang terpercaya dan tidak bisa disebutkan namanya apalagi bukunya. Tapi yang jelas obrolan seputar tema tersebut, sepertinya tidak cukup untuk dibahas seminar sehari, mungkin berhari-hari, karena nara sumbernya tidak jelas, pembandingnya tidak ada apalagi notulennya. Jadi tidak ada rekomendasi yang harus disampaikan kepada intstansi/lembaga yang berwenang, sebab mereka tidak tahu kanalnya.       

Cara Berkomentar Yang Baik

Cara berkomentar yang baik adalah tidak menyinggung perasaan orang lain, berbobot (ilmiyah dan argumentatif) dan bersifat membangun, tapi yang jelas sharing pengetahuan & pengalaman, oke!