KOALISI SEGI TIGA EMAS DAN JEMBATAN EMAS

(Manuver Elit Parpol Menjelang Pemilu 2009)

Mengamati konfigurasi politik di era reformasi merupakan suatu yang amat menarik. Partai besar berinisiatif dan bahkan sangat proaktif menggandeng partai lama dan partai baru yang dalam pandangannya dapat menguntungkan dan memperkuat pososinya di parlemen. Ada istilah kontrak politik, perkawinan politik, dan lain-lain. Apakah itu semacam koalisi?, atau hanya sekedar berbagi kekuasaan?, ataukah karena sakit hati terhadap pemerintah yang berkuasa? Oleh karena pada pertarungan pilpres yang telah lalu tidak mendapatkan kursi kekuasaan? Ataukah refresentasi parpol pemenang pemilu pada pos-pos penting kurang/tidak terwakili? tidak jelas juga arahnya. Lucunya adalah di era reformasi yang menjunjung tinggi transparansi ke publik,  mengapa justru pertemuan elit-elit parpol dilakukan secara tertutup?. Rakyat jadi bertanya-tanya: “Apakah pertemuan elit-elit parpol yang dilakukan secara tertutup tersebut menuju sebuah bentuk parlemen baru yang dinamakan “Koalisi”?, Sejauh pengetahuan penulis yang masih awam bahwa, sejarah parlemen di Indonesia tidak ada yang namanya “koalisi parlemen”, memang pada pemilu tahun-tahun yang lalu, terdengar ada suara “koalisi”, “oposisi”, akan realitasnya ternyata koalisi untuk membagi-bagi kekuasan, atau dalam strategi untuk menggulingkan pemerintah sah yang tidak disukai. Apa untungnya bagi rakyat, kalau hanya pertemuan-pertemuan semacam itu hanya membagi-bagikan nasi bungkus seperti acara arisan pada umumnya. Dalam pemikiran sederhana masyarakat awam siapapun presidennya kelak, yang penting dua liter berjalan lancar, dapur masih bisa tetap ngebul, bisa merokok meskipun cara memperolehnya masih bergaya klasik (mengegrek/mengecer) dari warung-warung terdekat dan itupun statusnya gali lubang tutup lubang, artinya, tarikan nafas kehidupan di nadi mereka masih berjalan. Rakyat tidak butuh janji-janji surgawi, tapi realisasi dari statemen-statemen para elit parpol setelah pemilu nanti, apakah benar anggota dewan yang terhormat adalah wakil-wakil mereka yang membela/mengusung suara/keluhan/jeritan mereka?  Jangan menduga bahwa rakyat tidak cerdas membaca manuver para elit parpol?, sebab obrolan mereka sehari-hari di kedai kopi, di tempat-tempat mangkal ojek dan tempat-tempat lain yang spontanitas dan sporadis tanpa dikonsolidasi terlebih dahulu, di seputar persoalan caleg, parpol dan bahkan siapa presiden yang pantas/dibanggakan. Kendatipun referensi dan daya nalar mereka dalam istilah pers dari sumber yang terpercaya dan tidak bisa disebutkan namanya apalagi bukunya. Tapi yang jelas obrolan seputar tema tersebut, sepertinya tidak cukup untuk dibahas seminar sehari, mungkin berhari-hari, karena nara sumbernya tidak jelas, pembandingnya tidak ada apalagi notulennya. Jadi tidak ada rekomendasi yang harus disampaikan kepada intstansi/lembaga yang berwenang, sebab mereka tidak tahu kanalnya.       

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: